Asal Usul Terbentuknya Lembaga Masyarakat Kota Prabumulih


Lembaga Masyarakat Adat Kota Prabumulih - Saat Belanda menguasai wilayah Sumatera Selatan, termasuk Prabumulih, struktur adat yang sudah mapan tetap dipertahankan. Nama Pehabung Uleh pun mengalami perubahan penyebutan, seperti Peraboeng ngoeleh di masa Belanda, dan Peraboeh Moelih saat pendudukan Jepang. Meskipun terjadi penyesuaian administratif, tatanan pemerintahan adat masih berjalan, dengan sistem pemerintahan marga yang dipimpin oleh seorang Pasirah. Pemerintahan ini diakui secara resmi oleh kolonial, menjadikan lembaga adat bagian dari struktur pemerintahan lokal.


Lembaga Masyarakat Adat Kota Prabumulih terbentuk pada tanggal 08 Juni 2006. Lembaga Masyarakat Adat Kota Prabumulih memiliki tujuan utama yang antara lainnya :

• Menjaga nilai-nilai luhur adat dan budaya Kota Prabumulih

• Memberikan pendidikan kritis kepada masyarakat

• Mengawasi kinerja pemerintah dalam pembangunan

• Melestarikan seni dan budaya di Kota Prabumulih

• Dan lain-lain yang berguna dan bermanfaat bagi Masyarakat Kota Prabumulih


🌐 Lembaga Masyarakat Adat Kota Prabumulih melakukan Family Gathering: Merajut Silaturahmi di Gunung Dempo

Dalam rangka menyambut Tahun Baru 2009, Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kota Prabumulih mengadakan kegiatan Family Gathering yang diselenggarakan di kawasan wisata Gunung Dempo, Pagaralam, pada tanggal 26–27 Desember 2008. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan LMA Prabumulih, setelah sebelumnya diselenggarakan di Komplek PTBA Tanjung Enim.

Tahun ini, kegiatan Family Gathering tidak hanya bertujuan mempererat hubungan internal anggota, tetapi juga menjadi momentum untuk menjalin silaturahmi antar tokoh adat. Dalam kesempatan tersebut, diadakan pertemuan khusus antara Tokoh Adat Kota Prabumulih dan Tokoh Adat Kota Pagaralam.

 

📄 Pertemuan Tokoh Adat: Menyatukan Warisan Budaya

Pertemuan adat tersebut mempertemukan Bapak Senanjat sebagai perwakilan tokoh adat dari Prabumulih dengan Bapak Kaim dan Bapak Cik Olah dari Pagaralam. Momen ini digunakan untuk saling bertukar informasi mengenai adat-istiadat dan seni budaya yang berkembang di masing-masing daerah.



Acara pertemuan ini bersifat silaturahmi, di mana kedua belah pihak menyampaikan harapan agar kerja sama ke depan tidak hanya sebatas pertemuan seremonial, tetapi juga dapat ditindak lanjuti dengan pementasan seni budaya bersama. Hal ini dianggap penting mengingat kesamaan historis dan budaya antara masyarakat adat Prabumulih dan Pagaralam. Pertemuan ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Tokoh Adat Kota Prabumulih kepada Tokoh Adat Pagaralam sebagai simbol persahabatan dan penghargaan.


📄 Kebersamaan dan Refleksi di Kaki Gunung Dempo

Usai pertemuan tokoh adat, rombongan LMA Kota Prabumulih melanjutkan agenda ke kebun teh Gunung Dempo, lokasi utama kegiatan Family Gathering. Berbagai kegiatan kebersamaan digelar, dimulai dari silaturahmi antar anggota LMA dan Perwira Muda Camp, Malam Renungan Suci, hingga acara karaoke bersama yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Keesokan harinya, peserta Family Gathering melaksanakan pendakian ke puncak Gunung Dempo, menikmati keindahan alam sekaligus memperkuat semangat kebersamaan. Kegiatan ditutup dengan kunjungan wisata ke Air Terjun Lematang Indah, salah satu destinasi alam unggulan Kota Pagaralam.

 

📄 Tujuan dari Family Gathering Lembaga Masyarakat Adat Kota Prabumulih

Family Gathering kali ini bukan hanya sekadar agenda tahunan, melainkan menjadi wadah memperkuat jaringan silaturahmi dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Lembaga Masyarakat Adat Kota Prabumulih berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan, demi mempererat hubungan antar komunitas adat serta menjaga kelestarian budaya warisan leluhur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sempat Vakum, Akhirnya LMA Kota Prabumulih Gelar Audiensi Bersama Ketua DPRD Prabumulih

Sejarah Lahirnya Kota Prabumulih